Tampilkan postingan dengan label sabar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sabar. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 Oktober 2024

Inilah Dewasa

 

Yang kutulis disini hanya perasaan-perasaan para teman yang ternyata sinkron dengankku.

Dan semuanya aku rangkum dalam 1 cerita hati.


Pernahkah suatu hari bertanya pada diri sendiri kenapa semuanya menjadi seperti ini??

Apa yang menyenangkan menjadi biasa saja.

Hobi yang awalnya kita lakukan sebagai pelipur lara tak lagi kita lakukan.

Humor-humor yang hanya kita sambut dengan ekspresi datar saja.


Apa yang terjadi? Padahal tahun-tahun sebelumnya tidak seperti ini.


Masalahnya kalau dipendam sendiri bikin stress, cerita ke orang makin down.


👩 : Rasanya ingin healing.

💔 : Healing hanya untuk mereka yang stress karena jauh dari agama. (Kata orang yang 3 bulan sekali ke pantai)


👩 : Aku merasa agak jengkel

💔 : Kamu jengkel karena hatimu menyimpan hal negatif. Cobalah belajar Sunnah.


👩 : Aku ingin nonton film

💔 : Orang mati sesuai dengan kebiasaan. Kamu mau mati dalam bioskop? (Aku bahkan belum berangkat)


💔 : Mau makan apa?

👩 : Ayam aja deh

💔 : Tapi kan kamu nggak tahu ayamnya disembelih dengan cara halal apa tidak? (Padahal dia yang tanya duluan)


💔 : YA AMPUN! daripada main game mending isi waktumu yang bermanfaat. Ikut kajian kek.

👩 : (Belum 5 menit game puzzle)

---


Ada yang awalnya hobi menulis untuk meluapkan perasaan, namun kala itu dia hanya menghela nafas sambil memandang laptop yang menyala.

Ada yang menjadikan merajut sebagai pelepas overthinking, namun kala itu dia hanya melamun memegang jarum rajut.

Ada yang senang menjahit, namun kala itu dia hanya duduk didepan mesin jahit memegang gunting dan kain.

Ada yang hobi badminton, namun kala itu dia hanya duduk di tepi lapangan memandang raket dengan tatapan kosong.

Ada yang hobi menari, namun kala itu dia hanya bersandar membiarkan lagu tetap berputar sampai berhenti sendiri.


Di titik terendah, kita perlu meluapkan perasaan untuk menghindari atau sekedar mengurangi stress. Tapi apa yang terjadi? 

💔 : Kalau banyak masalah itu jangan curhat ke orang, mending curhat ke Allah sambil sekalian mendekatkan diri. 

💔 : Makanya perbanyak dzikir. Kayak aku lho, gak pernah stress.

---


Segala lelah tentu saja membuat kita kadang menangis untuk sekedar menyalurkan emosi sebagai manusia.

💔 : Jangan cengeng donk. Selemah apa imanmu sampai nangis cuma karena masalah kecil? Kamu gak pernah sholat malam ya?

---


Semua hal bisa diambil hikmah dan sisi baiknya, Tapi aku sedang membicarakan titik terendah manusia  yang berteriak minta jangan dihakimi keputusannya.

Itu adalah saat kita dianggap bersalah karena sedih, 

Itu adalah saat kita di cap berdosa karena menangis

Itu adalah saat kita dibilang kurang bersyukur

Kenapa?

Kenapa semua emosi itu seakan haram? 

Itulah titik terendah yang mau tidak mau harus dihadapi. Karena kita masih harus menghadapi esok pagi.

---


Ada saat kita hanya menangis dalam kamar di tengah malam. Kadang sambil memandang kedua telapak tangan, kadang memeluk guling, kadang membiarkan bantal basah karena airmata, kadang hanya melamun hingga pagi.

Sekali lagi aku sedang membahas titik terndah insan. Bukan mereka kufur nikmat.

Tapi bisakah mereka mengekspresikan perasaan manusia dengan normal? 

Maksudku kalau sedang sedih ya sedih, sedang berduka ya berduka, kalau marah ya marah gitu lho.


💔 : Ngapain sedih? Hidup itu indah. Selalu lihat yang positif lah!

💔 : HEH! Kamu masa gak tahu kalau Tuhan gak suka orang pemarah?

💔 : Bisa gak kamu ngilangin rasa jengkel? Penyakit hati kok dipelihara.

---

HELLO

Mereka itu sedang berusaha baik-baik saja. Sedang berusaha agar segera bisa melewati semua ini.

💔 : HALAH! Ngapain mikirin apa kata orang.


Permisi ... 

Kami sedang di titik rendah lho. 

Kami tahu harus segera bangkit dan berjuang kembali agar bisa "naik kelas". 

iya deh, kalian hebat banget gak pernah stress karena selalu dzikir. IYA


--

--

Semoga teman-teman semua khususnya teman-temanku yang sedang ada di fase ini tetap kuat. Kalian juga hebat.

Kita sama-sama berada dalam dunia dewasa yang kurang adil. Karena itulah hanya Tuhan Yang Maha Adil

Kita tetap menjadi teman yang ssaling mendoakan karena tahu  bagaimana sakitnya adu nasib ketika bercerita.




Sabtu, 12 Juni 2021

Hanya 150 juta?

 Assalamualaykum

Kali ini penulis ingin berbagi kisah yang sangat mengiris hati.

Saat itu, penulis dan 2 orang teman sedang makan di tenda bakso dekat alun-alun kota. Satu teman memakai jaket hitam, satu lagi memakai baju cokelat sedang penulis memakai baju merah. Kami bertiga berbincang ringan, namun penulis menyadari bahwa salah satu teman berbaju cokelat sedikit berbeda. Sesekali menampakkan ekspresi sendu.

 .

Setelah makan, kami duduk di salah satu sudut alun-alun. Penulis dan teman berjaket hitam tak bisa mengabaikan hal itu dan bertanya dengan hati-hati. Kami tak menyangka bila jawaban yang kami terima lebih menyakitkan dari apa yang kami bayangkan.


Singkatnya, beberapa hari sebelum kami bertemu,, teman berbaju cokelat menghadiri reuni yang juga hal paling tak terlupakan seumur hidup. Bukan karena dia dipermalukan atau diejek tapi lebih ke insecure.

Tidak ada yang menghinanya tapi ini murni perasaan rendah diri teman berbaju cokelat.

Pada saat itu, salah seorang teman perempuan pada reuni menceritakan betapa kecil gajinya saat menggarap taman belakang berukuran 4x5 milik salah seorang Anggota Dewan Daerah. Diceritakan bahwa dia adaah wanita cantik, cerdas, berkeperibadian menarik dan berprestasi baik di sekolah maupun Universitas. Sedangkan teman ini hanya lulusan SMA dengan pekerjaan jualan pulsa sedang suami buruh proyek.

Dia mengatakan hanya dibayar 150 juta. HANYA   H-A-N-Y-A. 



Penulis sendiri kurang mengerti dunia Arsitek dan segala bayarannya. Tapi pada saat itu, teman penulis berbaju cokelat langsung izin pulang karena suaminya juga akan pulang, meski sebenarnya tidak.

.

Dirumah, teman ini menangis dikamarnya. Dan masih terbawa hingga bertemu kami. MAsih dengan berlinang airmata, dia menanyakan pertanyaan yang tak memerlukan jawaban.

"150 juta itu sebanyak apa??"

"Aku dan suami harus berjuang seharian berdua untuk mendapat uang 100ribu"

"Uang sebanyak itu bisa buat beli beras berapa kilo?"

"150 juta muat di tas koper kah?"

 Dan sederet pertanyaan yang menjebol bendungan airmata penulis dan teman berjaket hitam. Kami tidak tahu harus berkata apa karena kami yakin dia tahu saat ini dia harus kuat.

.

iya iya - - Kami tahu harusnya itu : 

=>Jadi motivasi

=>Jangan dibaperin

=>Jangan insecure

=>Rezeki masing-masing

=>Kerja keras donk!!

.

Kami tahu tingakt kesedihan setiap orang memiliki pemicu yang berbeda.

Teman berbaju cokelat sedikit demi sedikit mengikis rasa rendah diri secepat yang ia bisa. Dan kami dengan senang hati membatu. Inijuga kondisi kami tak seperti "150juta".

"Suamimu tahu kalau kau menangis?" tanya penulis.

"Itu lah yang membuatku harus segera menyembukan rasa iri tidak penting ini." jawabnya mencoba menormalkan suaranya yang serak.

.

.

Ternyata suaminya meminta maaf karena tidak bisa memberi maskawin besar ataupun memuliakan wanita pendamping hidupnya. Suami berjanji akan bekerja lebih giat dan keras agar istri tak malu bertemu teman-temannya.



Sebesar itu hati sang suami membuat kami tersentuh. 

Namun hal itu malah menampar balik sifat cengeng yang baru saja ia biarkan mampir ke hatinya karena "HANYA 150 JUTA"

Setelah sholat Maghrib berjama'ah di masjid terdekat, teman berbaju cokelat berpamitan karena dia dan suami akan pindah ke kota jauh dari teman-teman reuni kemarin.  Kota dimana keduanya akan melanjutkan kisah mereka.

=Dia juga menitipkan do'a agar kami bertemu jodoh mapan nan Sholeh. 

Aamiin kami pun berdo'a akan sejuta kebaikkan dan kekuatan untukmu wahai sobat Jannah.

Setelah berpamitan, saya dan teman berjaket cokelat kembali berbincang sejenak masih dengan rasa haru.

MasyaAllah. 

Mereka memiliki cinta yang lembut. Kami sepakat bahwa teman kami menemukan rajanya meski tanpa riwayat bangsawan. Dan raja ini akan memahkotai teman kami dengan Iman dan kepercayaan. 

.

.

Pesan dari cerita ini : ......................... (fill it by yourself)

Sabtu, 18 April 2020

Bumi juga berhak berdo'a (Covid-19) part -1

Assalamualaykum sahabat
Apa kabar kalian hari ini?

#dirumahsaja kah? saya juga.

Siapa yang masih mengeluh karena lockdown yang diperpanjang? 
Well
Gantian ya??


Ingatkah kalian para "oknum" manusia yang suka merusak Bumi? (ngaku dalam hati aja) 

-Penebangan liar
-Buang sampah seenak jidat 
-Buang limbah di perairan
-Menguras isi Bumi 
-Meledakkan nuklir di laut



Dan perbuatan lain yang seakan mereka sengaja buta akan akibat dari semua tindakan perusakan ini.


Tapi kak.. Kan banyak aktivis lingkungan yang berusaha menyelamatkan Bumi?


Ada. Banyak! 

Tapi lebih banyak oknum yang merusak!!
Lebih banyak oknum yang "like kalau kalian ingin Bumi kita sembuh"
Lebih banyak oknum yang mengumpat aksi perusakan Bumi dibalik layar HP
Lebih banyak oknum yang "biar para Menteri yang mengurus lingkungan"


Bumi   : Tuhan..
Tuhan : Ada apa?
Bumi   : Aku sesak, yang bernafas di kulitku bukan hanya manusia. Tolong aku Tuhan, tubuhku mulai dirusak.
Tuhan : Baiklah (kun fayakun) [Covid-19]
Bumi   : Nafasku sudah mulai longgar. Terimakasih Tuhan.
Tuhan : Tentu. 


Percuma kalian terus berdoa di SosMed :
"Semoga Corona hilang sebelum Ramadhan Aamiin." 
"Yang setuju Corona musnah sebelum Ramadhan like"

Meskipun ribuan manusia berdo'a demikian, jika Allah Subhanahu wa ta'ala memilih mengabulkan do'a Bumi. Maka, manusia harus sadar kalau mereka sangat kecil.
Makhluk yang terbuat dari tanah namun bertingkah layaknya penguasa Bumi.




Kamu kok gitu kak? tau nggak berapa orang yang kesulitan cari nafkah karena Corona ini? Tau nggak berapa orang yang meninggal? 
Berapa orang yang kena PHK? 
Berapa orang yang menjadi melakukan maksiat demi bisa tetap makan?
Berapa orangtua mengeluh soal sekolah online yang memusingkan?
Memangnya kamu nggak kena dampaknya?



Ehem

Tentu semua lapisan masyarakat terkena dampaknya (kecuali yang tidak) termasuk aku. Tapi sesederhana aku mencintai ciptaanNya, salah satunya adalah Bumi tempatku bernaung.



{وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لا تُفْسِدُوا فِي الأرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ، أَلا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِنْ لا يَشْعُرُونَ}
Dan bila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi,” mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan”. Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar” (QS al-Baqarah:11-12).



Kalian para "oknum" perusak peduli sama Bumi nggak? 
Nggak kan? yang penting kalian dapat uang darinya meskipun secara tidak kesurupan tahu efeknya dimasa depan. Bumi sudah baik namun oknum-oknum ini tidak membalas dengan layak. 

Para oknum ini ibarat maunya menyakiti Bumi tapi Bumi tidak boleh membalas menyakiti. Akhirnya Tuhan yang memperingatkan.


Kenapa? Apa?
Mau menyalahkan Tuhan?
Gitu aja terus sampai Bumi punya 2 satelit.
Bumi sejak lama menangis tapi pura-pura tidak didengar. Sekarang manusia berharap Bumi mendengar tangisan mereka? Hanya Tuhan yang tahu.



{وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ}

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan (dosa)mu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)” (QS asy-Syuura:30).



Kenapa? Masih kurang?


Aku menulis ini bukan karena aku manusia paling benar dan tidak pernah lalai. Keluargaku pun terkena dampak lockdown tapi tidak ada satupun diantara kami yang bermuka masam.
Uang makin menipis, kebutuhan terus keluar tapi pemasukan Nol. 

Lalu bagaimana? mau marah kemana? mau mengutuk siapa? semua sudah terjadi. 
Jadilah kreatif, mungkin mau menanam sayur dalam pot  (bagi yang tak punya halaman / pekarangan) agar biaya makan lebih murah (kami juga melakukannya)


Baiklah. Yang tidak setuju ruang komentar selalu terbuka, aku menerima saran dan kritik yang membangun.
Silahkan berdebat sehat atau mungkin ada "oknum" seperti yang tadi aku tuliskan? 

Wa'alaykumsalam