Tampilkan postingan dengan label bersyukur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bersyukur. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 Juni 2021

Hanya 150 juta?

 Assalamualaykum

Kali ini penulis ingin berbagi kisah yang sangat mengiris hati.

Saat itu, penulis dan 2 orang teman sedang makan di tenda bakso dekat alun-alun kota. Satu teman memakai jaket hitam, satu lagi memakai baju cokelat sedang penulis memakai baju merah. Kami bertiga berbincang ringan, namun penulis menyadari bahwa salah satu teman berbaju cokelat sedikit berbeda. Sesekali menampakkan ekspresi sendu.

 .

Setelah makan, kami duduk di salah satu sudut alun-alun. Penulis dan teman berjaket hitam tak bisa mengabaikan hal itu dan bertanya dengan hati-hati. Kami tak menyangka bila jawaban yang kami terima lebih menyakitkan dari apa yang kami bayangkan.


Singkatnya, beberapa hari sebelum kami bertemu,, teman berbaju cokelat menghadiri reuni yang juga hal paling tak terlupakan seumur hidup. Bukan karena dia dipermalukan atau diejek tapi lebih ke insecure.

Tidak ada yang menghinanya tapi ini murni perasaan rendah diri teman berbaju cokelat.

Pada saat itu, salah seorang teman perempuan pada reuni menceritakan betapa kecil gajinya saat menggarap taman belakang berukuran 4x5 milik salah seorang Anggota Dewan Daerah. Diceritakan bahwa dia adaah wanita cantik, cerdas, berkeperibadian menarik dan berprestasi baik di sekolah maupun Universitas. Sedangkan teman ini hanya lulusan SMA dengan pekerjaan jualan pulsa sedang suami buruh proyek.

Dia mengatakan hanya dibayar 150 juta. HANYA   H-A-N-Y-A. 



Penulis sendiri kurang mengerti dunia Arsitek dan segala bayarannya. Tapi pada saat itu, teman penulis berbaju cokelat langsung izin pulang karena suaminya juga akan pulang, meski sebenarnya tidak.

.

Dirumah, teman ini menangis dikamarnya. Dan masih terbawa hingga bertemu kami. MAsih dengan berlinang airmata, dia menanyakan pertanyaan yang tak memerlukan jawaban.

"150 juta itu sebanyak apa??"

"Aku dan suami harus berjuang seharian berdua untuk mendapat uang 100ribu"

"Uang sebanyak itu bisa buat beli beras berapa kilo?"

"150 juta muat di tas koper kah?"

 Dan sederet pertanyaan yang menjebol bendungan airmata penulis dan teman berjaket hitam. Kami tidak tahu harus berkata apa karena kami yakin dia tahu saat ini dia harus kuat.

.

iya iya - - Kami tahu harusnya itu : 

=>Jadi motivasi

=>Jangan dibaperin

=>Jangan insecure

=>Rezeki masing-masing

=>Kerja keras donk!!

.

Kami tahu tingakt kesedihan setiap orang memiliki pemicu yang berbeda.

Teman berbaju cokelat sedikit demi sedikit mengikis rasa rendah diri secepat yang ia bisa. Dan kami dengan senang hati membatu. Inijuga kondisi kami tak seperti "150juta".

"Suamimu tahu kalau kau menangis?" tanya penulis.

"Itu lah yang membuatku harus segera menyembukan rasa iri tidak penting ini." jawabnya mencoba menormalkan suaranya yang serak.

.

.

Ternyata suaminya meminta maaf karena tidak bisa memberi maskawin besar ataupun memuliakan wanita pendamping hidupnya. Suami berjanji akan bekerja lebih giat dan keras agar istri tak malu bertemu teman-temannya.



Sebesar itu hati sang suami membuat kami tersentuh. 

Namun hal itu malah menampar balik sifat cengeng yang baru saja ia biarkan mampir ke hatinya karena "HANYA 150 JUTA"

Setelah sholat Maghrib berjama'ah di masjid terdekat, teman berbaju cokelat berpamitan karena dia dan suami akan pindah ke kota jauh dari teman-teman reuni kemarin.  Kota dimana keduanya akan melanjutkan kisah mereka.

=Dia juga menitipkan do'a agar kami bertemu jodoh mapan nan Sholeh. 

Aamiin kami pun berdo'a akan sejuta kebaikkan dan kekuatan untukmu wahai sobat Jannah.

Setelah berpamitan, saya dan teman berjaket cokelat kembali berbincang sejenak masih dengan rasa haru.

MasyaAllah. 

Mereka memiliki cinta yang lembut. Kami sepakat bahwa teman kami menemukan rajanya meski tanpa riwayat bangsawan. Dan raja ini akan memahkotai teman kami dengan Iman dan kepercayaan. 

.

.

Pesan dari cerita ini : ......................... (fill it by yourself)

Rabu, 27 Mei 2020

Bumi juga berhak berdo'a (Covd-19) part-2

Assalamualaykum sahabat

Kita semua masih dirumah saja atau . . . . . .??

Di part-1 saya menyampaikan uneg-uneg saya tentang sebagian oknum yang mengeluh berlebihan.
Kita semua memang mengalami kesulitan karena Corona. 



-Ada yang di berhentikan dari pekerjaan yang merupakan satu-satunya sumber pangan -keluarga.
-Ada yang diusir dari kontrakan karena tidak sanggup memperpanjang masa sewa.
-Ada yang menunda pernikahan karena PSBB.
-Sosial distancing sudah menjadi Fisical distancing.
-Para ibu yang mengeluh karena kesulitan dengan tugas si anak.
-Para remaja yang sudah mengabaikan anjuran Pemerintah.
-Portal 24 jam kurang maksimal.
-Sebagian masyarakat yang bodo amat.
-Tenaga medis yang sudah mulai kelelahan.
-Pemerintah yang utar otak mencari solusi.
-Dan banyak lagi.



Begini, saya ini bukan anak orang kaya yang baik-baik saja ketika diberlakukan lockdown. Tapi saya juga jengah membaca, menonton & mendengar keluhan sebagian orang yang selalu menyalahkan Corona dan Pemerintah.


Sayangku..
Oh? nggak mau dipanggil sayang? oke oke


Saya anggap kita semua tahu bahwa bmi ini rusak, yang bisa kita lakukan hanya like & share tanpa aksi nyata.
Contoh sederhana saja ketika buang sampah. Tak ada tempat sampah, sungai & pinggir jalan pun tidak masalah.


Bumi kita itu capek rekk. Cobalah itu kalau melihat orang-orang yang menyelmatkan lingkungan, kita tak ikut serta, hanya posting-posting saja kan?


Sebenarnya Bumi kita tidak sakit, dia minta Tuhan Yang Maha Agung meringankan beban yang ia pikul karena ulah manusia.

Ijinkan Bumi memperbaikki diri untuk kemudian hari manusia bisa memanfaatkan sumber dayanya lagi. Anggap saja Bumi sedang isi ulang.


Coba bersyukur deh!

  • Kualitas udara semakin membaik, emisi karbon mencapai titik terendah.
  • Langit Jakarta lebih cerah.
  • Pegunungan Himalaya yang 30 tahun tertutup polisi bisa terlihat jelas.
  • Di Italia sejak 1 - 11 Maret mengalami penurunan emisi nitrogen dioksida
  • Kanal di Venezia menjadi bening (wajahku kapan?☺️hehe)
  • Para ilmuan di Royal Observactory of Belgium menemukan penurunan getaran kerak Bumi 1-20Hz
  • Ahli gempa Nepal Institute of Earth Physics melihat penurunan aktifitas gempa yang sangat dramatis.
  • Dan yang lebih membuatku bersujud adalah lubang Lapisan OZON terbesar di Bumi hampir tertutup sempurna (tinggal sedikit lagi).


Apa sih yang kita (saya & kalian) lakukan untuk Bumi?

Saya pun demikian, yang saya lakukan untuk mencintai Bumi Tuhan hanya sekian kecil saja dibanding permintaan saya untuk meminta rezeki yang banyak.


Bila do'a manusia saja dikabulkanNya, mengapa do'a Bumi tidak?

Kita semua diberi kesempatan untuk merenung dan beristighfar  atas segala kerusakan yang pernah kita lakukan.

Bumi sedang berobat, karena selama ini dia menahan sakit dan beban yang teramat sangat berat yang sebagian besar berasal dari manusia.


Semoga segalanya bisa berubah nejadi lebih baik. Aamiin




Sabtu, 18 April 2020

Bumi juga berhak berdo'a (Covid-19) part -1

Assalamualaykum sahabat
Apa kabar kalian hari ini?

#dirumahsaja kah? saya juga.

Siapa yang masih mengeluh karena lockdown yang diperpanjang? 
Well
Gantian ya??


Ingatkah kalian para "oknum" manusia yang suka merusak Bumi? (ngaku dalam hati aja) 

-Penebangan liar
-Buang sampah seenak jidat 
-Buang limbah di perairan
-Menguras isi Bumi 
-Meledakkan nuklir di laut



Dan perbuatan lain yang seakan mereka sengaja buta akan akibat dari semua tindakan perusakan ini.


Tapi kak.. Kan banyak aktivis lingkungan yang berusaha menyelamatkan Bumi?


Ada. Banyak! 

Tapi lebih banyak oknum yang merusak!!
Lebih banyak oknum yang "like kalau kalian ingin Bumi kita sembuh"
Lebih banyak oknum yang mengumpat aksi perusakan Bumi dibalik layar HP
Lebih banyak oknum yang "biar para Menteri yang mengurus lingkungan"


Bumi   : Tuhan..
Tuhan : Ada apa?
Bumi   : Aku sesak, yang bernafas di kulitku bukan hanya manusia. Tolong aku Tuhan, tubuhku mulai dirusak.
Tuhan : Baiklah (kun fayakun) [Covid-19]
Bumi   : Nafasku sudah mulai longgar. Terimakasih Tuhan.
Tuhan : Tentu. 


Percuma kalian terus berdoa di SosMed :
"Semoga Corona hilang sebelum Ramadhan Aamiin." 
"Yang setuju Corona musnah sebelum Ramadhan like"

Meskipun ribuan manusia berdo'a demikian, jika Allah Subhanahu wa ta'ala memilih mengabulkan do'a Bumi. Maka, manusia harus sadar kalau mereka sangat kecil.
Makhluk yang terbuat dari tanah namun bertingkah layaknya penguasa Bumi.




Kamu kok gitu kak? tau nggak berapa orang yang kesulitan cari nafkah karena Corona ini? Tau nggak berapa orang yang meninggal? 
Berapa orang yang kena PHK? 
Berapa orang yang menjadi melakukan maksiat demi bisa tetap makan?
Berapa orangtua mengeluh soal sekolah online yang memusingkan?
Memangnya kamu nggak kena dampaknya?



Ehem

Tentu semua lapisan masyarakat terkena dampaknya (kecuali yang tidak) termasuk aku. Tapi sesederhana aku mencintai ciptaanNya, salah satunya adalah Bumi tempatku bernaung.



{وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لا تُفْسِدُوا فِي الأرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ، أَلا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِنْ لا يَشْعُرُونَ}
Dan bila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi,” mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan”. Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar” (QS al-Baqarah:11-12).



Kalian para "oknum" perusak peduli sama Bumi nggak? 
Nggak kan? yang penting kalian dapat uang darinya meskipun secara tidak kesurupan tahu efeknya dimasa depan. Bumi sudah baik namun oknum-oknum ini tidak membalas dengan layak. 

Para oknum ini ibarat maunya menyakiti Bumi tapi Bumi tidak boleh membalas menyakiti. Akhirnya Tuhan yang memperingatkan.


Kenapa? Apa?
Mau menyalahkan Tuhan?
Gitu aja terus sampai Bumi punya 2 satelit.
Bumi sejak lama menangis tapi pura-pura tidak didengar. Sekarang manusia berharap Bumi mendengar tangisan mereka? Hanya Tuhan yang tahu.



{وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ}

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan (dosa)mu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)” (QS asy-Syuura:30).



Kenapa? Masih kurang?


Aku menulis ini bukan karena aku manusia paling benar dan tidak pernah lalai. Keluargaku pun terkena dampak lockdown tapi tidak ada satupun diantara kami yang bermuka masam.
Uang makin menipis, kebutuhan terus keluar tapi pemasukan Nol. 

Lalu bagaimana? mau marah kemana? mau mengutuk siapa? semua sudah terjadi. 
Jadilah kreatif, mungkin mau menanam sayur dalam pot  (bagi yang tak punya halaman / pekarangan) agar biaya makan lebih murah (kami juga melakukannya)


Baiklah. Yang tidak setuju ruang komentar selalu terbuka, aku menerima saran dan kritik yang membangun.
Silahkan berdebat sehat atau mungkin ada "oknum" seperti yang tadi aku tuliskan? 

Wa'alaykumsalam