Yang kutulis disini hanya perasaan-perasaan para teman yang ternyata sinkron dengankku.
Dan semuanya aku rangkum dalam 1 cerita hati.
Pernahkah suatu hari bertanya pada diri sendiri kenapa semuanya menjadi seperti ini??
Apa yang menyenangkan menjadi biasa saja.
Hobi yang awalnya kita lakukan sebagai pelipur lara tak lagi kita lakukan.
Humor-humor yang hanya kita sambut dengan ekspresi datar saja.
Apa yang terjadi? Padahal tahun-tahun sebelumnya tidak seperti ini.
Masalahnya kalau dipendam sendiri bikin stress, cerita ke orang makin down.
👩 : Rasanya ingin healing.
💔 : Healing hanya untuk mereka yang stress karena jauh dari agama. (Kata orang yang 3 bulan sekali ke pantai)
👩 : Aku merasa agak jengkel
💔 : Kamu jengkel karena hatimu menyimpan hal negatif. Cobalah belajar Sunnah.
👩 : Aku ingin nonton film
💔 : Orang mati sesuai dengan kebiasaan. Kamu mau mati dalam bioskop? (Aku bahkan belum berangkat)
💔 : Mau makan apa?
👩 : Ayam aja deh
💔 : Tapi kan kamu nggak tahu ayamnya disembelih dengan cara halal apa tidak? (Padahal dia yang tanya duluan)
💔 : YA AMPUN! daripada main game mending isi waktumu yang bermanfaat. Ikut kajian kek.
👩 : (Belum 5 menit game puzzle)
---
Ada yang awalnya hobi menulis untuk meluapkan perasaan, namun kala itu dia hanya menghela nafas sambil memandang laptop yang menyala.
Ada yang menjadikan merajut sebagai pelepas overthinking, namun kala itu dia hanya melamun memegang jarum rajut.
Ada yang senang menjahit, namun kala itu dia hanya duduk didepan mesin jahit memegang gunting dan kain.
Ada yang hobi badminton, namun kala itu dia hanya duduk di tepi lapangan memandang raket dengan tatapan kosong.
Ada yang hobi menari, namun kala itu dia hanya bersandar membiarkan lagu tetap berputar sampai berhenti sendiri.
Di titik terendah, kita perlu meluapkan perasaan untuk menghindari atau sekedar mengurangi stress. Tapi apa yang terjadi?
💔 : Kalau banyak masalah itu jangan curhat ke orang, mending curhat ke Allah sambil sekalian mendekatkan diri.
💔 : Makanya perbanyak dzikir. Kayak aku lho, gak pernah stress.
---
Segala lelah tentu saja membuat kita kadang menangis untuk sekedar menyalurkan emosi sebagai manusia.
💔 : Jangan cengeng donk. Selemah apa imanmu sampai nangis cuma karena masalah kecil? Kamu gak pernah sholat malam ya?
---
Semua hal bisa diambil hikmah dan sisi baiknya, Tapi aku sedang membicarakan titik terendah manusia yang berteriak minta jangan dihakimi keputusannya.
Itu adalah saat kita dianggap bersalah karena sedih,
Itu adalah saat kita di cap berdosa karena menangis
Itu adalah saat kita dibilang kurang bersyukur
Kenapa?
Kenapa semua emosi itu seakan haram?
Itulah titik terendah yang mau tidak mau harus dihadapi. Karena kita masih harus menghadapi esok pagi.
---
Ada saat kita hanya menangis dalam kamar di tengah malam. Kadang sambil memandang kedua telapak tangan, kadang memeluk guling, kadang membiarkan bantal basah karena airmata, kadang hanya melamun hingga pagi.
Sekali lagi aku sedang membahas titik terndah insan. Bukan mereka kufur nikmat.
Tapi bisakah mereka mengekspresikan perasaan manusia dengan normal?
Maksudku kalau sedang sedih ya sedih, sedang berduka ya berduka, kalau marah ya marah gitu lho.
💔 : Ngapain sedih? Hidup itu indah. Selalu lihat yang positif lah!
💔 : HEH! Kamu masa gak tahu kalau Tuhan gak suka orang pemarah?
💔 : Bisa gak kamu ngilangin rasa jengkel? Penyakit hati kok dipelihara.
---
HELLO
Mereka itu sedang berusaha baik-baik saja. Sedang berusaha agar segera bisa melewati semua ini.
💔 : HALAH! Ngapain mikirin apa kata orang.
Permisi ...
Kami sedang di titik rendah lho.
Kami tahu harus segera bangkit dan berjuang kembali agar bisa "naik kelas".
iya deh, kalian hebat banget gak pernah stress karena selalu dzikir. IYA
--
--
Semoga teman-teman semua khususnya teman-temanku yang sedang ada di fase ini tetap kuat. Kalian juga hebat.
Kita sama-sama berada dalam dunia dewasa yang kurang adil. Karena itulah hanya Tuhan Yang Maha Adil
Kita tetap menjadi teman yang ssaling mendoakan karena tahu bagaimana sakitnya adu nasib ketika bercerita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar