Senin, 21 Oktober 2024

Inilah Dewasa

 

Yang kutulis disini hanya perasaan-perasaan para teman yang ternyata sinkron dengankku.

Dan semuanya aku rangkum dalam 1 cerita hati.


Pernahkah suatu hari bertanya pada diri sendiri kenapa semuanya menjadi seperti ini??

Apa yang menyenangkan menjadi biasa saja.

Hobi yang awalnya kita lakukan sebagai pelipur lara tak lagi kita lakukan.

Humor-humor yang hanya kita sambut dengan ekspresi datar saja.


Apa yang terjadi? Padahal tahun-tahun sebelumnya tidak seperti ini.


Masalahnya kalau dipendam sendiri bikin stress, cerita ke orang makin down.


👩 : Rasanya ingin healing.

💔 : Healing hanya untuk mereka yang stress karena jauh dari agama. (Kata orang yang 3 bulan sekali ke pantai)


👩 : Aku merasa agak jengkel

💔 : Kamu jengkel karena hatimu menyimpan hal negatif. Cobalah belajar Sunnah.


👩 : Aku ingin nonton film

💔 : Orang mati sesuai dengan kebiasaan. Kamu mau mati dalam bioskop? (Aku bahkan belum berangkat)


💔 : Mau makan apa?

👩 : Ayam aja deh

💔 : Tapi kan kamu nggak tahu ayamnya disembelih dengan cara halal apa tidak? (Padahal dia yang tanya duluan)


💔 : YA AMPUN! daripada main game mending isi waktumu yang bermanfaat. Ikut kajian kek.

👩 : (Belum 5 menit game puzzle)

---


Ada yang awalnya hobi menulis untuk meluapkan perasaan, namun kala itu dia hanya menghela nafas sambil memandang laptop yang menyala.

Ada yang menjadikan merajut sebagai pelepas overthinking, namun kala itu dia hanya melamun memegang jarum rajut.

Ada yang senang menjahit, namun kala itu dia hanya duduk didepan mesin jahit memegang gunting dan kain.

Ada yang hobi badminton, namun kala itu dia hanya duduk di tepi lapangan memandang raket dengan tatapan kosong.

Ada yang hobi menari, namun kala itu dia hanya bersandar membiarkan lagu tetap berputar sampai berhenti sendiri.


Di titik terendah, kita perlu meluapkan perasaan untuk menghindari atau sekedar mengurangi stress. Tapi apa yang terjadi? 

💔 : Kalau banyak masalah itu jangan curhat ke orang, mending curhat ke Allah sambil sekalian mendekatkan diri. 

💔 : Makanya perbanyak dzikir. Kayak aku lho, gak pernah stress.

---


Segala lelah tentu saja membuat kita kadang menangis untuk sekedar menyalurkan emosi sebagai manusia.

💔 : Jangan cengeng donk. Selemah apa imanmu sampai nangis cuma karena masalah kecil? Kamu gak pernah sholat malam ya?

---


Semua hal bisa diambil hikmah dan sisi baiknya, Tapi aku sedang membicarakan titik terendah manusia  yang berteriak minta jangan dihakimi keputusannya.

Itu adalah saat kita dianggap bersalah karena sedih, 

Itu adalah saat kita di cap berdosa karena menangis

Itu adalah saat kita dibilang kurang bersyukur

Kenapa?

Kenapa semua emosi itu seakan haram? 

Itulah titik terendah yang mau tidak mau harus dihadapi. Karena kita masih harus menghadapi esok pagi.

---


Ada saat kita hanya menangis dalam kamar di tengah malam. Kadang sambil memandang kedua telapak tangan, kadang memeluk guling, kadang membiarkan bantal basah karena airmata, kadang hanya melamun hingga pagi.

Sekali lagi aku sedang membahas titik terndah insan. Bukan mereka kufur nikmat.

Tapi bisakah mereka mengekspresikan perasaan manusia dengan normal? 

Maksudku kalau sedang sedih ya sedih, sedang berduka ya berduka, kalau marah ya marah gitu lho.


💔 : Ngapain sedih? Hidup itu indah. Selalu lihat yang positif lah!

💔 : HEH! Kamu masa gak tahu kalau Tuhan gak suka orang pemarah?

💔 : Bisa gak kamu ngilangin rasa jengkel? Penyakit hati kok dipelihara.

---

HELLO

Mereka itu sedang berusaha baik-baik saja. Sedang berusaha agar segera bisa melewati semua ini.

💔 : HALAH! Ngapain mikirin apa kata orang.


Permisi ... 

Kami sedang di titik rendah lho. 

Kami tahu harus segera bangkit dan berjuang kembali agar bisa "naik kelas". 

iya deh, kalian hebat banget gak pernah stress karena selalu dzikir. IYA


--

--

Semoga teman-teman semua khususnya teman-temanku yang sedang ada di fase ini tetap kuat. Kalian juga hebat.

Kita sama-sama berada dalam dunia dewasa yang kurang adil. Karena itulah hanya Tuhan Yang Maha Adil

Kita tetap menjadi teman yang ssaling mendoakan karena tahu  bagaimana sakitnya adu nasib ketika bercerita.




Sabtu, 12 Juni 2021

Hanya 150 juta?

 Assalamualaykum

Kali ini penulis ingin berbagi kisah yang sangat mengiris hati.

Saat itu, penulis dan 2 orang teman sedang makan di tenda bakso dekat alun-alun kota. Satu teman memakai jaket hitam, satu lagi memakai baju cokelat sedang penulis memakai baju merah. Kami bertiga berbincang ringan, namun penulis menyadari bahwa salah satu teman berbaju cokelat sedikit berbeda. Sesekali menampakkan ekspresi sendu.

 .

Setelah makan, kami duduk di salah satu sudut alun-alun. Penulis dan teman berjaket hitam tak bisa mengabaikan hal itu dan bertanya dengan hati-hati. Kami tak menyangka bila jawaban yang kami terima lebih menyakitkan dari apa yang kami bayangkan.


Singkatnya, beberapa hari sebelum kami bertemu,, teman berbaju cokelat menghadiri reuni yang juga hal paling tak terlupakan seumur hidup. Bukan karena dia dipermalukan atau diejek tapi lebih ke insecure.

Tidak ada yang menghinanya tapi ini murni perasaan rendah diri teman berbaju cokelat.

Pada saat itu, salah seorang teman perempuan pada reuni menceritakan betapa kecil gajinya saat menggarap taman belakang berukuran 4x5 milik salah seorang Anggota Dewan Daerah. Diceritakan bahwa dia adaah wanita cantik, cerdas, berkeperibadian menarik dan berprestasi baik di sekolah maupun Universitas. Sedangkan teman ini hanya lulusan SMA dengan pekerjaan jualan pulsa sedang suami buruh proyek.

Dia mengatakan hanya dibayar 150 juta. HANYA   H-A-N-Y-A. 



Penulis sendiri kurang mengerti dunia Arsitek dan segala bayarannya. Tapi pada saat itu, teman penulis berbaju cokelat langsung izin pulang karena suaminya juga akan pulang, meski sebenarnya tidak.

.

Dirumah, teman ini menangis dikamarnya. Dan masih terbawa hingga bertemu kami. MAsih dengan berlinang airmata, dia menanyakan pertanyaan yang tak memerlukan jawaban.

"150 juta itu sebanyak apa??"

"Aku dan suami harus berjuang seharian berdua untuk mendapat uang 100ribu"

"Uang sebanyak itu bisa buat beli beras berapa kilo?"

"150 juta muat di tas koper kah?"

 Dan sederet pertanyaan yang menjebol bendungan airmata penulis dan teman berjaket hitam. Kami tidak tahu harus berkata apa karena kami yakin dia tahu saat ini dia harus kuat.

.

iya iya - - Kami tahu harusnya itu : 

=>Jadi motivasi

=>Jangan dibaperin

=>Jangan insecure

=>Rezeki masing-masing

=>Kerja keras donk!!

.

Kami tahu tingakt kesedihan setiap orang memiliki pemicu yang berbeda.

Teman berbaju cokelat sedikit demi sedikit mengikis rasa rendah diri secepat yang ia bisa. Dan kami dengan senang hati membatu. Inijuga kondisi kami tak seperti "150juta".

"Suamimu tahu kalau kau menangis?" tanya penulis.

"Itu lah yang membuatku harus segera menyembukan rasa iri tidak penting ini." jawabnya mencoba menormalkan suaranya yang serak.

.

.

Ternyata suaminya meminta maaf karena tidak bisa memberi maskawin besar ataupun memuliakan wanita pendamping hidupnya. Suami berjanji akan bekerja lebih giat dan keras agar istri tak malu bertemu teman-temannya.



Sebesar itu hati sang suami membuat kami tersentuh. 

Namun hal itu malah menampar balik sifat cengeng yang baru saja ia biarkan mampir ke hatinya karena "HANYA 150 JUTA"

Setelah sholat Maghrib berjama'ah di masjid terdekat, teman berbaju cokelat berpamitan karena dia dan suami akan pindah ke kota jauh dari teman-teman reuni kemarin.  Kota dimana keduanya akan melanjutkan kisah mereka.

=Dia juga menitipkan do'a agar kami bertemu jodoh mapan nan Sholeh. 

Aamiin kami pun berdo'a akan sejuta kebaikkan dan kekuatan untukmu wahai sobat Jannah.

Setelah berpamitan, saya dan teman berjaket cokelat kembali berbincang sejenak masih dengan rasa haru.

MasyaAllah. 

Mereka memiliki cinta yang lembut. Kami sepakat bahwa teman kami menemukan rajanya meski tanpa riwayat bangsawan. Dan raja ini akan memahkotai teman kami dengan Iman dan kepercayaan. 

.

.

Pesan dari cerita ini : ......................... (fill it by yourself)

Senin, 07 Juni 2021

Suka Duka Penulis Underrated


Assalamualaykum.

Kali ini saya mau berbagi kisah saya dan beberapa teman saya dibalik dunia kepenulisan underrated.

Terkadang kami yang menulis hanya untuk bersenang-senang, sering mendapat kritik yang tidak membangun atau lebih tepatnya pekmbaca julid.

Kami juga sering dianggap curhat lewat tulisan yang di buat seolah cerita bersambung. Padahal nyatanya itu hanyalah cerita hiburan tidak ada hubungannya dengan dunia nyata.

Jika kami membuat cerita pendek tentang Putus Cinta apakah kami harus mengalaminya dulu?

Atau bila kami membuat cerita tentang alien dan hantu, apakah kami harus melihat hantu dulu baru menulis? tentu tidak bukan?

Itu hanya cerita hiburan yang kami buat dari imajinasi kami tapi tentunya sebagian juga ada kisah nyata yang kami bumbui dengan drama.

Sering kali teman-teman saya bercerita kalau mereka mendapat kritikan tidak berguna.



Misal :

"Apasih tujuanmu nulis??"

"Nulis bisa buat makan?"

"Nggak guna banget hidup lo."

"Si A itu lho tulisannya bagus, sering ngisi majalah lebih berilmu dan berbobot."

"Kalo nulis cerita fiksi doank kapan majunya?"

"Nulis melulu cari suami noh. Dah tuwir hidup gitu-gitu aja."


Dan masih banyak lagi, terlebih kadang itu dilakukan orang orang-orang dekat dan teman yang kami percayai.

Kami hanya ingin bilang.

Astaghfirullah.

Silahkan kalian melanjutkan ucapan-ucapan kalian, kami pun akan melanjutkan tulisan-tulisan kami.

Wassalamualaykum warrahmatullah

Rabu, 27 Mei 2020

Bumi juga berhak berdo'a (Covd-19) part-2

Assalamualaykum sahabat

Kita semua masih dirumah saja atau . . . . . .??

Di part-1 saya menyampaikan uneg-uneg saya tentang sebagian oknum yang mengeluh berlebihan.
Kita semua memang mengalami kesulitan karena Corona. 



-Ada yang di berhentikan dari pekerjaan yang merupakan satu-satunya sumber pangan -keluarga.
-Ada yang diusir dari kontrakan karena tidak sanggup memperpanjang masa sewa.
-Ada yang menunda pernikahan karena PSBB.
-Sosial distancing sudah menjadi Fisical distancing.
-Para ibu yang mengeluh karena kesulitan dengan tugas si anak.
-Para remaja yang sudah mengabaikan anjuran Pemerintah.
-Portal 24 jam kurang maksimal.
-Sebagian masyarakat yang bodo amat.
-Tenaga medis yang sudah mulai kelelahan.
-Pemerintah yang utar otak mencari solusi.
-Dan banyak lagi.



Begini, saya ini bukan anak orang kaya yang baik-baik saja ketika diberlakukan lockdown. Tapi saya juga jengah membaca, menonton & mendengar keluhan sebagian orang yang selalu menyalahkan Corona dan Pemerintah.


Sayangku..
Oh? nggak mau dipanggil sayang? oke oke


Saya anggap kita semua tahu bahwa bmi ini rusak, yang bisa kita lakukan hanya like & share tanpa aksi nyata.
Contoh sederhana saja ketika buang sampah. Tak ada tempat sampah, sungai & pinggir jalan pun tidak masalah.


Bumi kita itu capek rekk. Cobalah itu kalau melihat orang-orang yang menyelmatkan lingkungan, kita tak ikut serta, hanya posting-posting saja kan?


Sebenarnya Bumi kita tidak sakit, dia minta Tuhan Yang Maha Agung meringankan beban yang ia pikul karena ulah manusia.

Ijinkan Bumi memperbaikki diri untuk kemudian hari manusia bisa memanfaatkan sumber dayanya lagi. Anggap saja Bumi sedang isi ulang.


Coba bersyukur deh!

  • Kualitas udara semakin membaik, emisi karbon mencapai titik terendah.
  • Langit Jakarta lebih cerah.
  • Pegunungan Himalaya yang 30 tahun tertutup polisi bisa terlihat jelas.
  • Di Italia sejak 1 - 11 Maret mengalami penurunan emisi nitrogen dioksida
  • Kanal di Venezia menjadi bening (wajahku kapan?☺️hehe)
  • Para ilmuan di Royal Observactory of Belgium menemukan penurunan getaran kerak Bumi 1-20Hz
  • Ahli gempa Nepal Institute of Earth Physics melihat penurunan aktifitas gempa yang sangat dramatis.
  • Dan yang lebih membuatku bersujud adalah lubang Lapisan OZON terbesar di Bumi hampir tertutup sempurna (tinggal sedikit lagi).


Apa sih yang kita (saya & kalian) lakukan untuk Bumi?

Saya pun demikian, yang saya lakukan untuk mencintai Bumi Tuhan hanya sekian kecil saja dibanding permintaan saya untuk meminta rezeki yang banyak.


Bila do'a manusia saja dikabulkanNya, mengapa do'a Bumi tidak?

Kita semua diberi kesempatan untuk merenung dan beristighfar  atas segala kerusakan yang pernah kita lakukan.

Bumi sedang berobat, karena selama ini dia menahan sakit dan beban yang teramat sangat berat yang sebagian besar berasal dari manusia.


Semoga segalanya bisa berubah nejadi lebih baik. Aamiin




Sabtu, 18 April 2020

Bumi juga berhak berdo'a (Covid-19) part -1

Assalamualaykum sahabat
Apa kabar kalian hari ini?

#dirumahsaja kah? saya juga.

Siapa yang masih mengeluh karena lockdown yang diperpanjang? 
Well
Gantian ya??


Ingatkah kalian para "oknum" manusia yang suka merusak Bumi? (ngaku dalam hati aja) 

-Penebangan liar
-Buang sampah seenak jidat 
-Buang limbah di perairan
-Menguras isi Bumi 
-Meledakkan nuklir di laut



Dan perbuatan lain yang seakan mereka sengaja buta akan akibat dari semua tindakan perusakan ini.


Tapi kak.. Kan banyak aktivis lingkungan yang berusaha menyelamatkan Bumi?


Ada. Banyak! 

Tapi lebih banyak oknum yang merusak!!
Lebih banyak oknum yang "like kalau kalian ingin Bumi kita sembuh"
Lebih banyak oknum yang mengumpat aksi perusakan Bumi dibalik layar HP
Lebih banyak oknum yang "biar para Menteri yang mengurus lingkungan"


Bumi   : Tuhan..
Tuhan : Ada apa?
Bumi   : Aku sesak, yang bernafas di kulitku bukan hanya manusia. Tolong aku Tuhan, tubuhku mulai dirusak.
Tuhan : Baiklah (kun fayakun) [Covid-19]
Bumi   : Nafasku sudah mulai longgar. Terimakasih Tuhan.
Tuhan : Tentu. 


Percuma kalian terus berdoa di SosMed :
"Semoga Corona hilang sebelum Ramadhan Aamiin." 
"Yang setuju Corona musnah sebelum Ramadhan like"

Meskipun ribuan manusia berdo'a demikian, jika Allah Subhanahu wa ta'ala memilih mengabulkan do'a Bumi. Maka, manusia harus sadar kalau mereka sangat kecil.
Makhluk yang terbuat dari tanah namun bertingkah layaknya penguasa Bumi.




Kamu kok gitu kak? tau nggak berapa orang yang kesulitan cari nafkah karena Corona ini? Tau nggak berapa orang yang meninggal? 
Berapa orang yang kena PHK? 
Berapa orang yang menjadi melakukan maksiat demi bisa tetap makan?
Berapa orangtua mengeluh soal sekolah online yang memusingkan?
Memangnya kamu nggak kena dampaknya?



Ehem

Tentu semua lapisan masyarakat terkena dampaknya (kecuali yang tidak) termasuk aku. Tapi sesederhana aku mencintai ciptaanNya, salah satunya adalah Bumi tempatku bernaung.



{وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لا تُفْسِدُوا فِي الأرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ، أَلا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِنْ لا يَشْعُرُونَ}
Dan bila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi,” mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan”. Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar” (QS al-Baqarah:11-12).



Kalian para "oknum" perusak peduli sama Bumi nggak? 
Nggak kan? yang penting kalian dapat uang darinya meskipun secara tidak kesurupan tahu efeknya dimasa depan. Bumi sudah baik namun oknum-oknum ini tidak membalas dengan layak. 

Para oknum ini ibarat maunya menyakiti Bumi tapi Bumi tidak boleh membalas menyakiti. Akhirnya Tuhan yang memperingatkan.


Kenapa? Apa?
Mau menyalahkan Tuhan?
Gitu aja terus sampai Bumi punya 2 satelit.
Bumi sejak lama menangis tapi pura-pura tidak didengar. Sekarang manusia berharap Bumi mendengar tangisan mereka? Hanya Tuhan yang tahu.



{وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ}

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan (dosa)mu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)” (QS asy-Syuura:30).



Kenapa? Masih kurang?


Aku menulis ini bukan karena aku manusia paling benar dan tidak pernah lalai. Keluargaku pun terkena dampak lockdown tapi tidak ada satupun diantara kami yang bermuka masam.
Uang makin menipis, kebutuhan terus keluar tapi pemasukan Nol. 

Lalu bagaimana? mau marah kemana? mau mengutuk siapa? semua sudah terjadi. 
Jadilah kreatif, mungkin mau menanam sayur dalam pot  (bagi yang tak punya halaman / pekarangan) agar biaya makan lebih murah (kami juga melakukannya)


Baiklah. Yang tidak setuju ruang komentar selalu terbuka, aku menerima saran dan kritik yang membangun.
Silahkan berdebat sehat atau mungkin ada "oknum" seperti yang tadi aku tuliskan? 

Wa'alaykumsalam



Senin, 16 Maret 2020

Betapa aku menahan sebal

Asslamualaykum sahabat.
Bagaimana kabar kalian ditengah terjangan virus Corona / COVID-19?

Kalau aku jadi lebih rajin bersih-bersih hehe

Tapi kali ini aku tidak membahas tentang COVID-19 karena pasti banyak yang sudah menuliskan info tentang itu.


Kali ini aku mau berbagi tentang pengalamanku difoto.
Yap seperti judulnya..

Tapi sebelum aku mulai, tulisan ini bukan untuk satu orang tapi untuk beberapa orang yang merasa pernah memotretku.

Baper? auto I dont care


.
Betapa aku menahan sebal ketika memiliki beberapa teman yang "ngakunya"
=Hobi fotografi
=Sering ikut kompetisi fotografi online
=Hasil fotonya pernah dipuji bule
=Modal kamera hp lolos uji babak penyisihan
=Sering ikut seminar & pelatihan fotografer
= d l l

TAPI


Ya Rabb


Aku memang tidak punya ilmu fotografi tapi ketika aku mau memotret kawan atau saudara, aku selalu mengarahkan cara bersikap mereka misal :
=> Jangan cemberut
=> Tekuk kaki agar nggak kelihatan gendud
=> Lihat bunga disamping kamu
=> Geser dikit, disitu gelap

Dan sederet arahan lain.


Aku memang bukan model yang langingdan bening, aku juga bukan orang cerewet karena aku lebih memilih menahan sebal ketika hasil jepretan fotoku  . . . . .


Masalahnya mereka yang ngakunya habi fotorafi dan banyak pengakuan yang berhubungan dengan itu, sama sekali tidak melalukan apa yang selumrahnya dilakukan fotografer.


Sekali lagi aku tidak memiliki ilmu fotografi tapi apa yang wajar sih kalau :

>> Ujung rok kelipat dikit
>> Hijab agak lungset
>> Mata setengah merem
>> Tangan shake
>> Belum siap pose
>> Foto agak blur
>> Tanpa hitungan
>> Pose dibiarkan jelek
dan lain lain


Emang gratis tapi kurang manusiawi. Tapi aku tahan rasa kecewaku karena takut nyinggung. (Koreksi kalau aku salah)


Aku yakin mereka menyadari hasil jepretan mereka sendiri. Tapi ya mau gimana lagi sifat mereka memang begitu.



Untuk teman-teman yang mengaku hobi fotografi tolong jangan begitu ya? Teman yang kalian potret bisa jadi adalah pintu rezeki kalian yang tak terduga. (Kalian tahu maksudku)



OKE.. cukup untuk unegh-uneghku. Dan sekali lagi ini bukan sindiran terlebih bila ada yang baper.

Kalau baper berarti hati tidak terbuka menerima saran (ini menurutku).

Teman-teman kalau punya pengalaman yang sama kita bisa saling sharing.



Wassalamualaykum

Rabu, 19 Februari 2020

Puisi Jadul Masa-masa Sekolah

Assalamualaykum teman-teman
Apa kabar?
.
.
Ceritanya tadi aku sedang bongkar laci lemari paling bawah dan menemkan beberapa puisi yang aku tulis zaman masih SMP-SMA.. Zaman aku masih imut, polos dan menggemaskan _uhugh_
.
.
Aku akan berbagi disini karena dibuku sudah mulai luntur, sekalian mengingatkan masa indah dan memalukan.. hahahaha
.
.
Ketika aku baca ini,,aku ngakak karena bahasa yang aku gunakan masih sangat wadidaw, kalian tau lah ya?? hehe
Ini aku pilah-pilah aja biar gak terlalu panjang.
.
.
.
Terulang (18 Januari 04)

Jangan sampai hal yang menakutkan
terulang dalam hidupku
Jangan berusaha menghilangkan
suka duka dalam hidupmu

   Jangan sampai kebaikan hatimu
   Disalah artikan oranglain
   Kau harus tau,
   Semua pernah dejavu

Tak ada yang bisa dihindari
Kita hanya sebagai saksi

.


Bahagia  (04 Februari 05)

Bahagia tak datang dengan tiba-tiba
tapi harus dicari dengan pengorbanan
juga derita lebih dari cukup

   Aku mengalaminya
   Penderitaan tiada tara tanpa senyuman

Meski aku hidup didunia tanpa nadi dan rasa
kecoba melawan dengan tenaga yang ada
walau yang kurasa hanya pahit dan pedih

   Kucoba menciptakan kebahagiaanku
   Aku ingin bahagia

(Sumpah disini aku merasa kayak orang sok menderita padahal masih bocil)

.

Kesedihan (28 April 06)

Kesedihan datang dengan sebab
tapi tak pergi begitu saja
kesedihan selalu membawa luka dan derita
kadang juga menenteng airmata

   Airmata yang aku tetekan hari itu
   adalah mewakili lebih dari satu sayatan
   dadaku sesak
   tak bisa mengungkapkan luka didalamnya

(Aku lupa ini galau pas apa ya?)



Sahabatku Hilang  (08 Juli 06)

Masih terkenang
pada secarik tulisan
kau telah berjanji
untuk mengkhianati

   Masa itu hanya kenangan
   hanya harapan tanpa ujung

Kini aku merasa sunyi
tanpa tawa dan rasa

.

Bebas (21 Agustus 07)

Seperti burung berterbangan
seperti ikan yang berenang
yang mendapat kebebasan
tanpa ada belenggu

   Aku ingin merasa bebas
   menikmati indahnya dunia
   aku ingin bisa lepas
   dari rantai penyiksa

Namun itu hanya ilusi
hanya khayal  dan mimpi
tanpa kenyataan dan pandangan
(Malu sendiri aku baca ini)

.

Kebisuanmu (14 Januari 08)

Aku suka kebisuanmu
seperti seolah telah menghilang
tak peduli kau dengar atau tidak

   Suaraku  tak dapat menyentuhmu
   seperti sepasang mata indahmu
   yang tak pernah memandangku
   bagai ciuman yang bicara dalam bisu

Aku suka kebisuanmu
seolah kau menghilang menjauh
memberiku luka yang tak harusnya ada

   Aku puas dengan satu kata
   cukup saja cinta
   aku memahami ini
   harusnya kita tak bertemu
(Aku ingat kejadian ini. Ya Rabb betapa diriku yang dulu *sensor*)



Ku tanya kau cinta (04 Maret 08)

Menyendiri ku dalam sepi
berpikir dan berpkir lagi
menanti yang selalu pergi
aku bosan

   Bertahan dan bertahan lagi
   tenangkan diri dan tegarkan hati
 
Tolong pahami isi hati ini
pedihnya siapa yang mengobati?

   Cinta . .  aku bertanya padamu
   apa  kau selalu begini?
   bisakah kau lukis senyum padaku?

Cinta.. cinta dan ku tanya kau lagi
(dari sini bahasku udah mulai jelas ya hehe)




Dan cukup itu saja, aku makin gak fokus saking anehnya aku waktu itu.
Teman-teman yang dulu nulis puisi dibagian belakang buku siapa hayoooo ngaku.
Kalian bisa share kenangan bareng disini.
.
.
Jujur saja aku sempat menangis karena teringat masa itu dan aku mulai rindu.

"Bila waktu telah berlalu dan jarak telah hadir. Yang bisa menemani hati hanyalah MEMORY"
-Risti